Menelusuri Warangka Keris Khas Trenggalek, Eko Putranto Tekankan Pentingnya Riset Artefak dan Kajian Sejarah.

LintasNusantara
0
Trenggalek – Lintasnusantara,Com – Upaya untuk merumuskan identitas budaya perkerisan di Kabupaten Trenggalek terus digalakkan oleh para pemerhati budaya. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pencarian bentuk warangka atau sarung keris yang diyakini memiliki kekhasan Trenggalek, namun hingga kini belum terdokumentasi secara ilmiah.

Sarjana perkerisan, Eko Putranto, S.Tr.Sn, menegaskan bahwa penentuan warangka khas suatu daerah tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan dugaan. Menurutnya, diperlukan proses penelitian yang terstruktur melalui kajian ilmiah serta melibatkan berbagai pihak.
Ia menjelaskan bahwa penelitian idealnya melibatkan komunitas perkerisan, pegiat budaya, kalangan akademisi, serta pemerintah daerah melalui dinas terkait seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek.

“Untuk mengetahui bentuk warangka khas Trenggalek harus melalui penelitian yang jelas dan terarah. Tidak cukup hanya asumsi, tetapi perlu studi lapangan, kajian literatur, serta penelusuran artefak yang benar-benar berkaitan dengan warangka keris,” ujarnya.

Eko memaparkan, langkah awal penelitian dapat dimulai dengan pengumpulan data primer melalui studi lapangan. Hal ini dapat dilakukan dengan menelusuri koleksi keris yang dimiliki masyarakat, keluarga tua, kolektor, maupun tokoh adat di wilayah Trenggalek. Artefak yang ditemukan kemudian menjadi bahan utama untuk dianalisis lebih lanjut.

Selain itu, penelitian juga perlu dilengkapi dengan studi literatur guna memperoleh data sekunder mengenai perkembangan bentuk warangka di berbagai daerah di Jawa. Melalui cara tersebut, peneliti dapat melihat kemungkinan adanya pengaruh budaya dari wilayah lain.

“Artefak warangka yang berhasil ditemukan perlu didata dan dianalisis bentuknya. Dari sana bisa diketahui tipologi warangkanya, apakah memiliki ciri khas tersendiri atau merupakan adaptasi dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, tradisi di tingkat lokal sering kali memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan pakem yang berkembang di lingkungan keraton seperti Hamengkubuwono di Yogyakarta maupun Pakubuwono di Surakarta.

Perbedaan tersebut justru dinilai sebagai kekayaan budaya daerah yang perlu digali secara lebih mendalam.
“Tradisi lokal tidak selalu sama dengan pakem yang berkembang di keraton Mataram. Di situlah menariknya, karena setiap daerah memiliki ekspresi budaya yang khas,” ungkapnya.

Selain meneliti bentuk warangka, kajian juga perlu menyentuh aspek bahan baku yang digunakan. Di wilayah Jawa Timur bagian selatan seperti Trenggalek, Ponorogo, hingga Tulungagung, kayu timoho dikenal cukup sering digunakan untuk membuat warangka keris.

Menurut Eko, analisis terhadap jenis bahan tersebut dapat menjadi salah satu indikator penting dalam mengidentifikasi ciri khas budaya perkerisan di suatu daerah.
Ia berharap penelitian yang dilakukan secara komprehensif nantinya dapat menjadi dasar ilmiah untuk merumuskan identitas warangka keris khas Trenggalek, sekaligus memperkaya khazanah budaya lokal.

“Jika riset ini dilakukan secara serius dan berkelanjutan, Trenggalek memiliki peluang untuk menemukan identitas warangka sendiri yang berlandaskan sejarah dan bukti artefak budaya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Eko juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, yang telah memberikan dukungan serta memfasilitasi para pegiat budaya dalam kegiatan diskusi Rembug Budaya yang digelar di Rumah Aspirasi.

“Saya mengapresiasi Bapak Doding Rahmadi yang telah mendukung serta menyediakan ruang bagi para pegiat budaya untuk berdiskusi dalam forum rembug budaya,” tuturnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek serta seluruh pegiat budaya yang ikut terlibat dalam diskusi tersebut.
Menurutnya, sinergi berbagai pihak sangat diperlukan untuk merumuskan identitas budaya yang didasarkan pada kajian ilmiah serta bukti sejarah yang kuat.

“Semoga apa yang sedang kita rintis ini ke depan bisa memberikan manfaat dan bahkan melahirkan sejarah baru mengenai warangka khas Trenggalek beserta nilai filosofinya,” pungkasnya. (tim)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

Terkini