Hariyanto Wijoyo Hibahkan Buku ke Perpustakaan Kabupaten Tulungagung, Puisi Menjadi Jalan Pengabdian

LintasNusantara
0
Tulungagung - Lintas nusantara, Com - 
Di tengah arus zaman yang kerap menjauhkan manusia dari kata dan makna, Hariyanto Wijoyo memilih jalan sunyi pengabdian: menulis, berbagi, dan mengembalikan pengetahuan kepada publik. Berpegang pada motto hidupnya, “Waktu adalah ibadah,” jurnalis senior sekaligus sastrawan religius ini menghibahkan sejumlah karya tulisnya kepada Perpustakaan Kabupaten Tulungagung, Rabu (14/01/2026).

Dengan latar pengalaman panjang di dunia pers dan sastra, Hariyanto Wijoyo—pemegang Sertifikat Kompetensi Wartawan (SKW) Utama Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)—menyerahkan beberapa buku karyanya, antara lain Kisah Hidup dalam 21 Cerpen, Ratusan Puisi Berbakti untuk Negeri, serta karya hasil ajang nasional penulisan cerita misteri Babad Bumi Nopember 2025.

Perwakilan Perpustakaan Kabupaten Tulungagung, Ani, menyampaikan apresiasi atas hibah tersebut. Ia berharap karya-karya tersebut dapat memperkaya khazanah literasi dan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat.
“Buku-buku ini bukan hanya menambah koleksi, tetapi juga menghadirkan nilai, refleksi, dan keteladanan,” ujarnya.

Hariyanto Wijoyo dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa hibah buku merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang penulis kepada masyarakat.
“Menulis bukan sekadar mencatat peristiwa, tetapi menghadirkan makna. Saya meyakini waktu adalah ibadah, dan karya harus kembali kepada publik sebagai manfaat,” tutur Hariyanto Wijoyo.

Hibah buku ini sekaligus menandai hadirnya karya puisi terbarunya berjudul Ratusan Puisi Berbakti untuk Negeri. Buku ini menjadi ruang perjumpaan antara iman, realitas sosial, dan cinta kebangsaan—dirangkai dalam ratusan bait yang bernapas pengabdian.
Lahir di Tulungagung dan kini aktif berkegiatan di Blitar serta Tulungagung, Hariyanto Wijoyo telah menekuni dunia jurnalistik sejak 2002. Kariernya berawal dari media cetak, kemudian berkembang ke media daring dan televisi. Selama lebih dari dua dekade, ia dikenal berpengalaman sebagai Pemimpin Redaksi  media, dengan komitmen menjaga etika jurnalistik, integritas profesi, dan keberpihakan pada kebenaran.

Dalam Ratusan Puisi Berbakti untuk Negeri, puisi-puisi religius, sosial, dan kebangsaan hadir sebagai dakwah kultural yang lembut. Sholat berjamaah, puasa sunah, sholat Dhuha dan Tahajjud, hingga sedekah subuh diposisikan bukan sekadar ritual, melainkan laku spiritual yang membentuk etika sosial dan kepekaan kemanusiaan.

Tema-tema sosial digarap dengan empati: kerinduan pada kampung halaman sebagai simbol kesederhanaan hidup, potret pahlawan devisa yang meninggalkan keluarga demi negeri, pahlawan olahraga sebagai cermin disiplin dan sportivitas, perjuangan suami mencari nafkah sebagai ibadah sunyi, hingga kisah anak yatim yang ditulis dengan bahasa harapan dan keteguhan iman.

Dalam dunia sastra, karya Hariyanto Wijoyo telah mendapat perhatian publik. Buku Kisah Hidup dalam 21 Cerpen (2025) merekam denyut kehidupan masyarakat dengan bahasa empatik, sementara karyanya Ayunan Senja di Asrama Lama dinobatkan sebagai karya terbaik dalam ajang nasional Babad Bumi pada November 2025.

Di luar jurnalistik dan sastra, Hariyanto Wijoyo juga aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan. Ia konsisten membina anak-anak yatim di LKSA Kyai Raden M. Kasiman Blitar serta rutin memberikan pelatihan jurnalistik bagi pelajar dan jurnalis pemula, sebagai ikhtiar melahirkan generasi pers yang beretika dan berintegritas.

Melalui hibah buku dan peluncuran Ratusan Puisi Berbakti untuk Negeri, Hariyanto Wijoyo menegaskan bahwa kata dapat menjadi jalan ibadah, pena dapat menjadi amanah, dan karya dapat menjelma pengabdian—kepada Tuhan, manusia, dan bangsa. 

Reporter:winarti

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

Terkini