Senja di Gunung Budeg, Ngopi Sore Jadi Ruang Diskusi Pelestarian Alam dan Budaya

LintasNusantara
0
Tulungagung - Lintas nusantara ,Com - Suasana senja di Gunung Budeg, Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, berubah menjadi ruang diskusi budaya dalam kegiatan bertajuk “Ngopi Sore di Gunung Budeg”, Sabtu (09/01/2025).

Di puncak gunung yang menyuguhkan panorama perbukitan, sejumlah tokoh masyarakat duduk bersama sambil menikmati kopi hangat. Mereka adalah Kang Kaji Khamim, Kang Agus, Kang Lamidi, Kang Erik, dan Kang Mul. Obrolan sore itu mengerucut pada satu pembahasan: pelestarian lingkungan dan budaya di Gunung Budeg.

“Gunung Budeg bukan sekadar tempat wisata. Gunung ini adalah ruang budaya dan sejarah yang diwariskan leluhur. Kita berkumpul untuk menjaga agar alam tetap lestari dan budaya tidak punah,” kata Kang Kaji Khamim saat membuka diskusi.

Gunung Budeg dikenal bukan hanya karena pemandangan alamnya yang indah, tetapi juga karena nilai sejarah dan budaya yang melekat di dalamnya. Gunung yang berada di Desa Tanggung ini dipercaya memiliki nilai spiritual, budaya, sekaligus geologi.

Menurut penuturan warga dan catatan lokal, Gunung Budeg menyimpan legenda Joko Bodo dan Roro Kembangsore. Kisah bermula dari Joko Bodo, pemuda yang jatuh cinta pada seorang putri bangsawan. Untuk membuktikan ketulusan hatinya, ia bertapa di gunung dengan syarat tidak boleh menjawab panggilan siapa pun.

Namun saat ibunya, Rondo Dadapan, memanggil dan tak mendapat jawaban, ia kecewa dan menyebut sang anak “budeg” (tuli). Dalam legenda, Joko Bodo kemudian berubah menjadi batu, dan sejak saat itu gunung tempat ia bertapa dinamai Gunung Budeg.

Legenda ini sering dipandang sebagai simbol bakti kepada orang tua dan kerendahan hati — nilai yang masih dijaga oleh masyarakat setempat hingga kini.

Selain nilai budaya, Gunung Budeg juga diperkirakan merupakan gunung purba berusia jutaan tahun. Pemerintah daerah pun mulai mendorong proses penetapan Gunung Budeg sebagai geopark, agar warisan geologi dan sejarahnya mendapatkan perlindungan berkelanjutan.
Hingga sekarang, masyarakat sekitar masih melestarikan sejumlah tradisi di Gunung Budeg, seperti:

Kirab budaya
Ruwatan nagari
Kenduri atau selamatan
Sedekah bumi
Tradisi itu menjadi bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap leluhur.

“Melestarikan budaya itu sama pentingnya dengan menjaga alam. Gunung Budeg adalah identitas desa ini,” ujar Kang Agus.

Dalam kesempatan yang sama, Kang Agus dan Kang Erik menekankan pentingnya edukasi bagi para wisatawan, terutama agar tidak merusak kawasan dan tetap menjaga kebersihan setiap berkunjung. 

Sementara itu, Kang Mul berharap kegiatan Ngopi Sore bisa menjadi agenda rutin untuk menguatkan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya.

“Ngopi sore di sini bukan hanya ngobrol. Ini gerakan kecil untuk menjaga warisan yang besar,” ujarnya.

Diskusi ditutup dengan ajakan bersama untuk menjaga Gunung Budeg agar tetap lestari — alamnya tetap terpelihara, budayanya tetap hidup, dan nilai sejarahnya dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. 

Reporter:winarti

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

Terkini